Pages

Sabtu, 07 Mei 2011

GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium)

Kekurangan yodium akan mengakibatkan membesarnya kelenjar gondok. Karena itu penyakit yang timbul akhibat kekurangan yodium disebut penyakit gondok. Karena penyakit pembesaran kelenjar gondok itu ditemukan di daerah-daerah tertentu untuk jangka waktu yang lama, maka disebut penyakit gondok endemik.
Terjadinya kekurangan yodium, terutama akibat rendahnya kadar yodium dalam tanah sehingga air dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di daerah itu juga rendah kadar yodiumnya. Disamping itu, beberapa jenis bahan makanan mengandung zat yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok dan disebut Zat Goiterogen. Zat tersebut ditemukan dalam sayuran dari jenis Brassica seperti kubis, lobak, kol kembang. Juga zat tersebut ditemukan dalam kacang kedelai, kacang tanah, dan obat-obatan tertentu.
Masih ada beberapa faktor lain yang diduga dapat mengakibatkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok, seperti air minum yang tercemar, kadar kapur dalam air yang terlalu tinggi dan sebagainya.

Akibat dari defisiensi Yodium itu ialah :
• Gondok Endemik, Bila konsumsi jodium itu rata-rata 25-60 ug seorang sehari, akan terdapat kasus goitre. Endemik goitre tidak merupakan penyakit yang secara akut dan dramatis, seperti juga halnya dengan defisiensi Vitamin A.
• Kretin, Kalau konsumsi jodium rata-rata penduduk suatu daerah sebesar 25 ug seorang sehari atau kurang, akan terdapat frekuensi goitre yang cukup tinggi, dan terdapat juga penderita-penderita cretinism, ialah yang menderita hambatan pertumbuhan fisik serta pengembangan fisik maupun mental (physical and mental retardation).

Kekurangan atau defisiensi yodium menyebabkan berbagai gangguan system tubuh dari yang ringan sampai fatal. Oleh karena itu diperlukan berbagai upaya untuk memasyarakatkan konsumsi yodium untuk mencegah terjadinya gangguan-gangguan akibat defisiensi yodium tersebut, terutama di daerah-deaerah pegunungan yang biasanya kekurangan yodium.
Ayo Konsumsi Garam beryodium agar Sehat dan Cerdas

Yang Perlu diketahui tentang “ TBC ”

Apakah tanda-tanda bahwa seseorang terkena penyakit TBC ?
Tanda-tanda orang yang dicurigai terkena penyakit TBC yaitu secara umum dapat dilihat dari gejalanya terlebih dahulu yaitu, demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. Penurunan nafsu makan dan berat badan. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah). Perasaan tidak enak (malaise), lemah. Dan untuk memberikan kepastian maka orang tersebut harus diperiksa lebih lanjut, jadi tidak selalu bahwa orang batuk-batuk lama pasti menderita TBC, harus dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen.

Apakah setiap orang yang mengalami batuk berdarah berarti menderita TBC ?
Belum tentu, karena batuk berdarah dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab, bisa karena penyakit paru-paru lainnya, karena adanya perdarahan di daerah hidung bagian belakang yang tertelan dan pada saat batuk keluar dari mulut atau karena anak batuk terlalu keras sehingga menyebabkan lukanya saluran nafas sehingga mengeluarkan darah.

TBC menular melalui media apa saja? Dan rata-rata berapa lama gejala timbul setelah orang terpapar kuman TBC?
Pada umumnya adalah melalui percikan dahak penderita yang keluar saat batuk (beberapa ahli mengatakan bahwa air ludah juga bisa menjadi media perantara), bisa juga melalui debu, alat makan/minum yang mengandung kuman TBC. Kuman yang masuk dalam tubuh akan berkembangbiak, lamanya dari terkumpulnya kuman sampai timbulnya gejala penyakit dapat berbulan-bulan sampai tahunan.

Apakah kena udara pagi terus menerus dan merokok dapat menyebabkan TBC?
Kena udara pagi terus menerus tidak terlalu bermasalah dalam hal penularan TBC, sedangkan merokok dapat menurunkan daya tahan dari paru-paru, sehingga relatif akan mempermudah terkena TBC.

Apakah penyakit TBC itu diwariskan secara genetik?
Penyakit TBC tidak diwariskan secara genetik, karena penyakit TBC bukanlah penyakit turunan. Hanya karena penularannya adalah melalui percikan dahak yang mengandung kuman TBC, maka orang yang hidup dekat dengan penderita TBC dapat tertular.
Bisakah penyakit TBC disembuhkan secara tuntas? Bagaimana caranya?
Penyakit TBC bisa disembuhkan secara tuntas apabila penderita mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk minum obat secara teratur dan rutin sesuai dengan dosis yang dianjurkan, serta mengkonsumsi makanan yang bergizi cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.

Apakah orang yang telah sembuh dari penyakit TBC dapat terjangkit kembali?
Dapat, karena setelah sembuh dari penyakit TBC tidak ada kekebalan seumur hidup. Jadi bila telah sembuh dari penyakit TBC kemudian tertular kembali oleh kuman TBC, maka orang tersebut dapat terjangkit kembali.

Apakah flek kecil di paru-paru pada anak balita sudah dapat dikatakan TBC?
Flek kecil di paru-paru balita pada umumnya memang disebabkan oleh TBC. Oleh karena itu perlu diteliti apakah ada gejala-gejala klinis penyakit TBC atau tidak. Bila tidak ada berarti pernah tertular penyakit TBC tapi karena daya tahan tubuhnya tinggi sehingga tidak bergejala. Atau saat ini anak tersebut sudah sembuh dari penyakit TBC dan hanya meninggalkan bekasnya saja di paru-paru.

Bagaimana efek terhadap janin bila ibu hamil sedang mengidap penyakit TBC?
Biasanya keadaan gizi penderita TBC kurang baik, sehingga hal ini dapat mempengaruhi perkembangan bagi janin dalam kandungan. Ibu hamil tetap harus diberikan terapi dengan obat TBC dengan dosis efektif terendah. Obat TBC yang diminum oleh ibu dapat melewati plasenta dan masuk ke janin dan berdasarkan beberapa kepustakaan disebutkan tidak memberikan efek yang terlampau berbahaya, akan tetapi pemantauan ketat pada perkembangan janin harus tetap dilakukan. Setelah bayi dilahirkan dapat dipisahkan terlebih dahulu dari ibu selama TBC masih aktif.

Bagaimana sikap kita bila di rumah terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit TBC?
Bawa pasien ke dokter untuk mendapatkan pengobatan secara teratur, awasi minum obat secara ketat dan beri makanan bergizi. Sirkulasi udara dan sinar matahari di rumah harus baik. Hindarkan kontak dengan percikan batuk penderita, jangan menggunakan alat-alat makan/minum/mandi bersamaan.

Pola hidup bagaimana yang harus kita miliki agar terhindar dari penyakit TBC?
Pola hidup sehat adalah kuncinya, karena kita tidak tahu kapan kita bisa terpapar dengan kuman TBC. Dengan pola hidup sehat maka daya tahan tubuh kita diharapkan cukup untuk memberikan perlindungan, sehingga walaupun kita terpapar dengan kuman TBC tidak akan timbul gejala. Pola hidup sehat adalah dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi, selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan hidup kita, rumah harus mendapatkan sinar matahari yang cukup
Yang jelas TBC dapat disembuhkan, Jika minum Obat secara Teratur!

Tips Agar Gigi Selalu Sehat

Gigi sehat adalah gigi yang bersih tanpa lubang. Maka dengan merawat gigi secara baik dan teratur bisa dipastikan gigi akan terjaga.

Apa saja kerusakan gigi yang terjadi karena faktor makanan/minuman?
Makanan yang manis seperti coklat dan lengket seperti dodol kalau tidak segera disikat/kumur akan tertinggal dan menyebabkan kerusakan gigi. Juga minuman seperti the, kopi, minuman ringan (coca-cola dsbnya), serta rokok dapat menimbulkan lapisan tipis di gigi yang disebut stain sehingga warna gigi jadi kusam, kecoklat-coklatan. Lapisan stain yang kasar itu mudah ditempeli sisa-sisa makanan dan kuman, yang akhirnya membentuk plak, jika tidak dibersihkan akan mengeras dan menjadi karang gigi (calculus) dan bisa merambat ke akar gigi. Akibatnya gigi mudah berdarah, gigi gampang goyah dan mudah tanggal. Juga bisa terjadi abses atau bengkak pada gigi tersebut. Sebaiknya sesudah makan/minum yang telah disebutkan tadi kita berkumur atau sikat gigi.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk perawatan gigi pada:
1. Balita
Harus lebih diperhatikan cara menyikat gigi, kalau perlu si-ibulah yang menyikat gigi anak. Hilangkan kebiasaan jelek seperti mengisap jempol, dll.
2. Anak-anak usia 5 - 10 tahun
Pada masa pergantian gigi susu, sering diperiksa apa gigi permanen sudah tumbuh. Mungkin gigi susu belum goyang, kalau terlambat dicabut, gigi jadi ganda atau tidak rata.
3. Pada orang dewasa,
Faktor disiplin, keturunan, ras, gizi dan kebiasaan sangat mempengaruhi kesehatan gigi.

Bagaimana pencegahan supaya gigi tetap sehat sedini mungkin
1. Pada Ibu Hamil
Pada kehamilan bulan ketiga, ibu harus cukup vitamin yang mengandung zat kapur, karena gigi anak dalam kandungan mulai dibentuk pada bulan ketiga kehamilan. Jangan minum sembarang obat tanpa perintah dari dokter, karena ada obat-obat jenis tertentu yang mempengaruhi pertumbuhan gigi. Misalnya antibiotik jenis tetracyclin dapat menyebabkan gigi anak yang sedang dikandung menjadi berwarna kuning atau keabu-abuan dan rapuh. Maka obat yang harus diminum seijin dokter yang merawat.
2. Pada Balita
Jangan sembarangan memberi obat antibiotik

 Berikut ini adalah 5 tips penting dalam mencegah kerusakan gigi anda :
1.Sikat lah gigi secara teratur, 2.Floss ( membersihkan sela-sela gigi ) setidaknya sekali sehari, 3.Periksa gigi anda secara teratur, 4.Batasi konsumsi gula dan minuman yang dapat merusak gigi, 5.Konsumsi vitamin.

Senin, 02 Mei 2011

ASUHAN KEPERAWATAN DECOMPENSASI CORDIS



by: Aris Suprianto,AMK


I. PENGERTIAN
Decompensasi cordis adalah suatu keadaan dimana terjadi penurunan kemampuan fungsi kontrktilitas yang berakibat pada penurunan fungsi pompa jantung (Tabrani, 1998: Prisce 1995)

II. ETIOLOGI
Mekanisme fisiologis yang menyebabkan timbulnya decompensasi cordis adalah keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal, beban akhir atau yang menurunkan kontaktilitas miocardium. Keadaan yang meningkatkan beban awal separti: regurgitasi aorta dan cacat septum ventrikel. Beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stinosis aorta atau hipertensi sistemik. Kontraktilitas miocardium dapat menurun pada infark miocard atau cardiomyompati. Faktor lain yang dapat menyebabkan jantung gagal sebagai pompa adalah gangguan pengisian ventrikel (stenosis katup atrio ventrikuler), gangguan pada pengisian dan ejeksi ventrikel (pericarditis konstriktif dan tempo nadi jantung). Dari seluruh penyebab tersebut diduga yang paling mungkin terjadi adalah pada setiap kondisi tersebut mengakibatkan gangguan penghantaran kalsium didalam zat komer atau didalam sistesis atau fungsi protein kontraktil (Price Sylvia A, 1995)

III. PATOFISOLOGI
Berdasarkan hubungan antara aktifitas tubuh dengan keluhan decompensasi dapat dibagi berdasarkan klasifikasi sbb:
1. Pasien dengan penyakit jantung tetapi tidak memiliki keluhan pada kegiatan sehari-hari
2. Pasien dengan penyakit jantung yang menimbulkan hambatan aktifitas hanya sedikit, akan tetapi jika ada kegiatan berlabih akan menimbulkan capai, berdebar, sesak serta angina.
3. Pasien dengan penyakit jantung dimana aktifitas jasmani sangat terbatas dan hanya merasa sehat jika beristirahat.
4. Pasien dengan penyakit jantung yang sedikit saja bergerak langsung menimbulkan sesak nafas atau istirahat juga menimbulkan sesak nafas.

IV. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Aktifitas dan istirahat
Gejala: mengeluh lemah, cepat lelah,pusing, rasa berdenyut dan berdebar. Mengeluh sulit tidur (ortopneu, dispneu, paroksimal nokturnal, nokturia, keringat malam hari).
Tanda: tachicardi, perubahan tekanan darah, pingsan karena kerja, dispneu.
2. Sirkulasi
Gejala: menyatakan memiliki demam rematik hipertensi, kongenital: kerusakan arteri septal, trauma dada, riwayat mumur jantung dan palpitasi, serak, hemoptisisi, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat anemi, riwayat shock hipovolemia.
Tanda: getaran sistolik pada apek, bunyi jantung, S1 keras, pembukaan yang keras, tachikardia. Irama tidak teratur: fiblilasi arterial.
3. Inetgritas Ego
Tanda: menunjukkan kecemasan: gelisah, pucat, berkaringat, gemetar. Takut kematian, keinginan mengahiri hidup, merasa tidak berguna dan keoribadian neurotik
4. Makanan atau cairan
Gejala: Mengeluh terjadi perubahan BB, sering penggunaan diuritik.
Tanda: Edema umum, hepatomegali dan asites, pernafasan payah dan bising terdengar krakela dan mengi.
5. Neurosensoris
Gejala: Mengeluh kesemutan, pusing
Tanda: kelemahan
6. Pernafasan
Gejala: mengeluh sesak, batuk menetap atau noktural
Tanda: Takipneu, bunyi nafas krekels, mengi, sputum berwarna bercak darah, gelisah.
7. Keamanan
Gejala: proses infeksi/sepsis, riwayat operasi
Tanda: kelemahan tubuh
8. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: menanyakan tentang keadaan penyakitnya
Tanda: menunjukkan kurang informasi

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto polos dada
• Proyeksi A-P: konus pulmunalis menonjol pinggang jantung hilang, cevalisasi arteria pulmunalis
• Proyeksi RAO: tampak adanya tanda-tanda pembesaran atrium kiri dan pembesaran ventrikrl kanan.
2. EKG
Irama sinus atau atrium fibrilasi, gel. Mitral yaitu gelombang P yang melebar serta berpuncak dua, serta tanda RVH, LVH jika lanjut usia cenderung tampak gambaran atrium fibrilasi
3. Kateterisasi jantung dan sine angiografi
Didapatkan gradien tekanan antara atrium kiri dan ventrikel kiri. Selain itu dapat dideteksi derajat beratnya hipertensi pulmonal. Dengan mengetahui frekuensi denyut jantung, besar curah jantung serta gradien antara atrium kiri dan ventrikel kiri maka dapat dihitung luas katup mitral

V. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL DAN TINDAKAN
1. Penurunan curah jantung b/d penurunan pengisian ventrikel kiri, peningkatan atrium dan kongesti vena
S: Mengeluh sesak, kelelahan, keletihan
O: Perubahan EKG/disritmia, kulit dingin dan basah, cyanosis, kulit pucat dan lembab, oliguri atau anuria.
Tujuan perawatan : Stabilitas hemodinamik dapat dipertahanakan dengan kriteria : (TD > 90 /60 ), Frekwensi jantung normal,

TINDAKAN
1. Pertahankan pasien untuk tirah baring
2. Ukur parameter hemodinamik
3. Pantau EKG terutama frekwensi dan irama.
4. Pantau bunyi jantung S-3 dan S-4
5. Periksa BGA dan saO2
6. Pertahankan akses IV
7. Batasi Natrium dan air
8. Kolaborasi :
- ISDN 3 X1 tab
- Spironelaton 50 –0-0
RASIONAL
• Mengurangi beban jantung
• Untuk mengetahui perfusi darah di organ vital dan untuk mengetahui PCWP, CVP sebagai indikator peningkatan beban kerj a jantung
• Untuk mengetahui jika terjadi penurunan kontraktilitas yang dapat mempengaruhi curah jantung.
• Untuk mengetahui tingkat gangguan pengisisna sistole ataupun diastole
• Untuk mengetahui perfusi jaringan di perifer
• Untuk maintenance jika sewaktu terjadi kegawatan vaskuler.
• Mencegah peningkatan beban jantung
• Meningkatkan perfisu ke jaringan
• Kalium sebagai salah satu komponen terjadinya konduksi yang dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot jantung.

2. Resiko tinggi kelebihan volume cairan: edema b/d kongesti vaskuler pulmonalis dan perpindahan cairan ke ekstra vaskuler
S: Mengeluh badan terasa berat dan kemeng.
O: Odema.
Tujuan : haluaran urin adekuat akan dipertahankan dengan diuretika ( > 30 ml /jam ), tanda-tanda odem paru atau ascites tidak ada
TINDAKAN
1. Kaji tekanan darah
2. Kaji distensi vena jugularis
3. Timbang BB
4. Beri posisi yang membantu drainage ektremitas, lakukan latihan gerak fasif,
5. Evaluasi kadar Na. Klien, Hb dan Ht.
RASIOANAL
• Sebagai salah satu cara untuk mengetahui peningkatan jumlah cairan yang dapat diketahui dengan meningkatkan beban kerja jantung yang dapat diketahui dari meningkatnya tekanan darah.
• Peningkatan cairan dapat membebani fungsi ventrikel kanan yang dapat dipantau melalui pemeriksaan tekanan vena jugularis.
• Kelebihan BB dapat diketahui dari peningkatan BB yang ekstrim akibat terjadiny penimbunan cairan ekstra seluler.
• Meningkatkan venus return dan mendorong berkurangnya edema perifer.
• Dampak dari peningkatan volume cairan akan terjadi hemodelusi sehingga Hb turun, Ht turun.

3. Perubahan perfusi jaringan b/d penurunan aliran arteri vena dengan keterlibatan katup mitral
S: Mengeluh lemah, cepat capek.
O: Kulit dingin, cyanosis, kapiler reffil > 3 detik.
Tujuan: Kulit hangat dan kering klien memperlihatkan perbaikan status mental
TINDAKAN
1. Kaji status mental klien secara teratur
2. Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer dan diaforesis secara teratur.
3. Kaji kualitas peristaltik k/p pasang sonde
4. Kaji adanya kongesti hepar pada abdomen kanan atas
5. Ukur tanda vital, periksa lab : Hb, Ht, BUN, Sc, BGA sesuai peasanan.
RASIONAL
• Mengetahui derajat hipoksia pada otak
• Mengetahui derajat hipsemia dan peningkatan tahanan perifer
• Mengetahui pengaruh hipoksia terhadap fungsi saluran cerna. serta dampak penurunan elektrolit.
• Sebagai dampak gagal jantung, kanan jika berat akan ditemuka adanya tanda kongesti
• Untuk mengetahui keadekuatan fungsi dan vaskulrasisai sescara keseluruhan. Jika terjadi dekompensasi ditambah komlikasi Hb rendah, Ht tinggi akan memeperberat gangguan perfusi. Gangguan perfusi yang berat (PCO2 tinggi) akan mengurangi aliran darah ke ginjal sehingga ginjal dapat mengalami gangguan fungsi yang dapat dimonitir dari peningkatan kadar BUN, Sc.


4. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas b/d dengan perubahan membram kapiler alveoli dan retensi cairan interstisiil.
S: Mengeluh sesak nafas, batuk kering, tidak produktif dan kelelahan.
O: Oedema pada ektremitas bawah, akral dingin, cyanosis.
TINDAKAN
1. Kaji kerja pernafasan ( frekwensi, irama , bunyi dan dalamnya )
2. Berikan tambahan O2 6 lt/mnt
3. Pantau saturasi (oksimetri) PH, BE, HCO3 (dengan BGA)
4. Koreksi kesimbangan asam basa
5. Beri posisi yang memudahkan klien meningkatkan ekpansi paru.(semi fowler)
6. Cegah atelektasis dengan melatih batuk efektif dan nafas dalam
7. Lakukan balance cairan
8. Batasi intake cairan
9. Eavluasi kongesti paru lewat radiografi
10.Kolaborasi :
- RL 500 cc/24 jam
- Digoxin 1-0-0
- Furosemid 2-1-0
RASIONAL
• Untuk mengetahui tingkat efektivitas fungsi pertukaran gas.
• Untu meningkatkan konsentrasi O2 dalam proses pertukaran gas.
• Untuk mengetahui tingkat oksigenasi pada jaringan sebagai dampak adekuat tidaknya proses pertukaran gas.
• Mencegah asidosis yang dapat memperberat fungsi pernafasan.
• Meningkatkan ekpansi paru
• Kongesti yang berat akan memperburuk proses perukaran gas sehingga berdampak pada timbulnya hipoksia.
• Meningkatkan kontraktilitas otot jantung sehingga dapat meguranngi timbulnya odem sehingga dapat mecegah ganggunpertukaran gas.Membantu mencegah terjadinya retensi cairan dengan menghambat ADH.

5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan demand oksigen
S: Mengeluh sesak nafas, dispneu pada saat aktivitas.
O: Keluar keringat dingin, nyeri dada, fibrilasi arterial.
TINDAKAN
1. Pertahankan klien tirah baring sementara sakit akut.
2. Tingkatkan klien duduk di kursi dan tinggikan kaki klien
3. Pertahankan rentang gerak pasif selama sakit kritis
4. Evaluasi tanda vital saat kemajuan akitivitas terjadi
5. Berikan waktu istirahat diatara waktu aktivitas
6. Pertahankan penambahan O2 sesuai pesanan
7. Selama aktivitas kaji EKG, dispnoe, sianosis, kerja nafas dan frekwensi nafas serta keluhan subyektif.
8. Berikan diet sesuai peasanan (pembatasan air dan Na ).
RASIONAL
• Untuk mengurangi beban jantung.
• Untuk meningkatkan venus return
• Meningkatkan kontraksi otot sehingga membantu venus return.
• Untuk mengetahui fungsi jantung, bila dikaitkan dengan aktivitas.
• Untuk mendapatkan cukup waktu qresolusi bagi tubuh dan tidak terlalu memaksa kerja jantung.
• Untuk meningkatkan oksigenasi jaringan
• Melihat dampak dari aktivitas terhadap fungsi jantung.
• Untuk mencegah retensi cairan dan odem akibat penurunan kontraktilitas jantung.

6. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan intake, mual dan anoreksia.
S: Mengeluh mual, tidak nafsu makan.
O: Makan hanya beberapa sendok, sediaan tidak habis.

RASIONAL
- Dengan pemahaman klien akan lebih kooperatif mengikuti aturan.
- Untuk menghindari makanan yang justru dapat menggaggu proses penyembuhan klien.
- Untuk meningkatkan selera dan mencegah mual, mempercepat perbaikan kondisi serta mengurangi beban kerja jantung.
TINDAKAN
- Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat
- Pertahankan kebersihan mulut
- Tawarkan makan porsi kecil tapi sering
- Berikan kesenangan suasana yang relaks (ex tdk terlihat pispot)
- Timbang BB setiap hari




































DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL DAN TINDAKAN PADA DECOMPENSASI CORDIS

1. Penurunan curah jantung b/d penurunan pengisian ventrikel kiri, peningkatan atrium dan kongesti vena
S: Mengeluh sesak, kelelahan, keletihan
O: Perubahan EKG/disritmia, kulit dingin dan basah, cyanosis, kulit pucat dan lembab, oliguri atau anuria.
Tujuan perawatan : Stabilitas hemodinamik dapat dipertahanakan dengan kriteria : (TD > 90 /60 ), Frekwensi jantung normal,

TINDAKAN
1. Pertahankan pasien untuk tirah baring
2. Ukur parameter hemodinamik
3. Pantau EKG terutama frekwensi dan irama.
4. Pantau bunyi jantung S-3 dan S-4
5. Periksa BGA dan saO2
6. Pertahankan akses IV
7. Batasi Natrium dan air
8. Kolaborasi :
- ISDN 3 X1 tab
- Spironelaton 50 –0-0
RASIONAL
• Mengurangi beban jantung
• Untuk mengetahui perfusi darah di organ vital dan untuk mengetahui PCWP, CVP sebagai indikator peningkatan beban kerj a jantung
• Untuk mengetahui jika terjadi penurunan kontraktilitas yang dapat mempengaruhi curah jantung.
• Untuk mengetahui tingkat gangguan pengisisna sistole ataupun diastole
• Untuk mengetahui perfusi jaringan di perifer
• Untuk maintenance jika sewaktu terjadi kegawatan vaskuler.
• Mencegah peningkatan beban jantung
• Meningkatkan perfisu ke jaringan
• Kalium sebagai salah satu komponen terjadinya konduksi yang dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot jantung.

2. Resiko tinggi kelebihan volume cairan: edema b/d kongesti vaskuler pulmonalis dan perpindahan cairan ke ekstra vaskuler
S: Mengeluh badan terasa berat dan kemeng.
O: Odema.
Tujuan : haluaran urin adekuat akan dipertahankan dengan diuretika ( > 30 ml /jam ), tanda-tanda odem paru atau ascites tidak ada
TINDAKAN
1. Kaji tekanan darah
2. Kaji distensi vena jugularis
3. Timbang BB
4. Beri posisi yang membantu drainage ektremitas, lakukan latihan gerak fasif,
5. Evaluasi kadar Na. Klien, Hb dan Ht.
RASIOANAL
• Sebagai salah satu cara untuk mengetahui peningkatan jumlah cairan yang dapat diketahui dengan meningkatkan beban kerja jantung yang dapat diketahui dari meningkatnya tekanan darah.
• Peningkatan cairan dapat membebani fungsi ventrikel kanan yang dapat dipantau melalui pemeriksaan tekanan vena jugularis.
• Kelebihan BB dapat diketahui dari peningkatan BB yang ekstrim akibat terjadiny penimbunan cairan ekstra seluler.
• Meningkatkan venus return dan mendorong berkurangnya edema perifer.
• Dampak dari peningkatan volume cairan akan terjadi hemodelusi sehingga Hb turun, Ht turun.

3. Perubahan perfusi jaringan b/d penurunan aliran arteri vena dengan keterlibatan katup mitral
S: Mengeluh lemah, cepat capek.
O: Kulit dingin, cyanosis, kapiler reffil > 3 detik.
Tujuan: Kulit hangat dan kering klien memperlihatkan perbaikan status mental
TINDAKAN
1. Kaji status mental klien secara teratur
2. Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer dan diaforesis secara teratur.
3. Kaji kualitas peristaltik k/p pasang sonde
4. Kaji adanya kongesti hepar pada abdomen kanan atas
5. Ukur tanda vital, periksa lab : Hb, Ht, BUN, Sc, BGA sesuai peasanan.
RASIONAL
• Mengetahui derajat hipoksia pada otak
• Mengetahui derajat hipsemia dan peningkatan tahanan perifer
• Mengetahui pengaruh hipoksia terhadap fungsi saluran cerna. serta dampak penurunan elektrolit.
• Sebagai dampak gagal jantung, kanan jika berat akan ditemuka adanya tanda kongesti
• Untuk mengetahui keadekuatan fungsi dan vaskulrasisai sescara keseluruhan. Jika terjadi dekompensasi ditambah komlikasi Hb rendah, Ht tinggi akan memeperberat gangguan perfusi. Gangguan perfusi yang berat (PCO2 tinggi) akan mengurangi aliran darah ke ginjal sehingga ginjal dapat mengalami gangguan fungsi yang dapat dimonitir dari peningkatan kadar BUN, Sc.


4. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas b/d dengan perubahan membram kapiler alveoli dan retensi cairan interstisiil.
S: Mengeluh sesak nafas, batuk kering, tidak produktif dan kelelahan.
O: Oedema pada ektremitas bawah, akral dingin, cyanosis.
TINDAKAN
1. Kaji kerja pernafasan ( frekwensi, irama , bunyi dan dalamnya )
2. Berikan tambahan O2 6 lt/mnt
3. Pantau saturasi (oksimetri) PH, BE, HCO3 (dengan BGA)
4. Koreksi kesimbangan asam basa
5. Beri posisi yang memudahkan klien meningkatkan ekpansi paru.(semi fowler)
6. Cegah atelektasis dengan melatih batuk efektif dan nafas dalam
7. Lakukan balance cairan
8. Batasi intake cairan
9. Eavluasi kongesti paru lewat radiografi
10.Kolaborasi :
- RL 500 cc/24 jam
- Digoxin 1-0-0
- Furosemid 2-1-0
RASIONAL
• Untuk mengetahui tingkat efektivitas fungsi pertukaran gas.
• Untu meningkatkan konsentrasi O2 dalam proses pertukaran gas.
• Untuk mengetahui tingkat oksigenasi pada jaringan sebagai dampak adekuat tidaknya proses pertukaran gas.
• Mencegah asidosis yang dapat memperberat fungsi pernafasan.
• Meningkatkan ekpansi paru
• Kongesti yang berat akan memperburuk proses perukaran gas sehingga berdampak pada timbulnya hipoksia.
• Meningkatkan kontraktilitas otot jantung sehingga dapat meguranngi timbulnya odem sehingga dapat mecegah ganggunpertukaran gas.Membantu mencegah terjadinya retensi cairan dengan menghambat ADH.

5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan demand oksigen
S: Mengeluh sesak nafas, dispneu pada saat aktivitas.
O: Keluar keringat dingin, nyeri dada, fibrilasi arterial.
TINDAKAN
1. Pertahankan klien tirah baring sementara sakit akut.
2. Tingkatkan klien duduk di kursi dan tinggikan kaki klien
3. Pertahankan rentang gerak pasif selama sakit kritis
4. Evaluasi tanda vital saat kemajuan akitivitas terjadi
5. Berikan waktu istirahat diatara waktu aktivitas
6. Pertahankan penambahan O2 sesuai pesanan
7. Selama aktivitas kaji EKG, dispnoe, sianosis, kerja nafas dan frekwensi nafas serta keluhan subyektif.
8. Berikan diet sesuai peasanan (pembatasan air dan Na ).
RASIONAL
• Untuk mengurangi beban jantung.
• Untuk meningkatkan venus return
• Meningkatkan kontraksi otot sehingga membantu venus return.
• Untuk mengetahui fungsi jantung, bila dikaitkan dengan aktivitas.
• Untuk mendapatkan cukup waktu qresolusi bagi tubuh dan tidak terlalu memaksa kerja jantung.
• Untuk meningkatkan oksigenasi jaringan
• Melihat dampak dari aktivitas terhadap fungsi jantung.
• Untuk mencegah retensi cairan dan odem akibat penurunan kontraktilitas jantung.

6. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan intake, mual dan anoreksia.
S: Mengeluh mual, tidak nafsu makan.
O: Makan hanya beberapa sendok, sediaan tidak habis.
RASIONAL
- Dengan pemahaman klien akan lebih kooperatif mengikuti aturan.
- Untuk menghindari makanan yang justru dapat menggaggu proses penyembuhan klien.
- Untuk meningkatkan selera dan mencegah mual, mempercepat perbaikan kondisi serta mengurangi beban kerja jantung.
TINDAKAN
- Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat
- Pertahankan kebersihan mulut
- Tawarkan makan porsi kecil tapi sering
- Berikan kesenangan suasana yang relaks (ex tdk terlihat pispot)
- Timbang BB setiap hari

HIPERTENSI

Istilah : high blood pressure = tekanan darah tinggi ( TD > 140/90mmHg)

Jenis :
a. Primer : belum diketahui penyebabnya, tidak menunjukkan gejala apapun, diketahui saat pemeriksaan kesehatan ke dokter
b. Sekunder : muncul sebagai akibat dari suatu penyakit, kondisi dan kebiasaan seseorang, misal : stres yang parah, gangguan ginjal, kehamilan atau pemakian pil KB, pemakaian narkoba, cedera kepala, perdarahan otak, tumor otak

Pengaruh Hipertensi :
a. Terhadap Jantung  gagal jantung
b. Stroke
c. Ginjal gagal ginjal
d. Faktor keturunan
e. Faktor kehamilan keracunan kehamilan kematian ibu dan anak

Pengobatan :
A. Farmakoterapi obat-obatan dari dokter
B. Mengubah Gaya Hidup :
1. Mengurangi kegemukan
2. Berhenti merokok
Merokok menyempitnya pembuluh darah
3. Berhenti minum kopi
Kopi menyempitnya pembuluh darah
4. Batasi makan garam cukup 2 gram sehari
5. Tingkatkan masukan kalium
Senyawa kalium banyak ditemukan dalam buah dan sayur
6. Rajin berolahraga
Jalan, joging, berenang 30 menit sehari atau 3x seminggu
7. Menghindari stres psikis
8. Menghindari obat-obatan yang dapat meningkatkan darah, misal : obat rematik, pil KB, kortikosteroid, dll konsultasi ke dokter sebelum menggunakan obat
C. Back to Nature / kembali ke alam
 Terapi Jus dan Sayuran









Buah-Buah dan Sayuran untuk Jus

a. Apel
- mengandung magnesium, zat besi dan silikon, potasiummelancarkan pencernaan, sosfor, sodium, kalsium, belerang klor
- zat asam zat pembersih tubuh & penyembuh peradangan dalam tubuh
b. Belimbing
- sumber vit C yg baik  antioksidan, zat besi, fosfor, kalsium, vit A, B, niasin
c. Bayam
- mengandung potasium, sodium, kalsium, iodine, Mg, fosfor, belerang, zat besi
- makanan penting untuk alat pencernaan
- memperbaiki jaringan tubuh yang rusak
d. Brokoli
- kaya potasium, fosfor, belerang, vit A, B, C
- 90% air, dengan karbohidrat dan lemak rendah
- Dikenal sebagai sayuran antikanker
- Pembersih tubuh yang baik
- Dapat mengurangi berat badan dan darah tinggi
e. Jambu biji
- vit C tinggi antioksidan
- vit A, B, niasin, kalsium, fosfor, besi
- pektin menurunkan kolesterol
f. Wortel
- vit A, B, C, D, E
- sumber kalsium yang baik jika diminum setiap hari secar kontinyu
g. Kubis
- mengandung vit, mineral dan selulosa
- kandungan kalori rendah
h. Melon
- mengandung antikoagulan mencegah terjadinya penggumpalan darah
- karetenoidantikanker, membantu sistem pembuangan, menurunkan resiko penyakit jantung dan stroke
i. Mentimun
- banyak air dan vit
- Lilikon & belerang  menumbuhkan rambut
- Jus mentimun melancarkan air seni
j. Seledri
- tinggi serat kasar, rendah kalori
- sodium memperlambat proses penuaan, menjaga kelenturan dan aktivitas otot
- melarutkan penumpukan kalsium dalam tubuh yang menyebabkan jaringan sendi dan arteri menjadi keras
- Cina jus seledri terbukti menurunkan tek darah
- Serat tinggi iritasi lambung hentikan penggunaan
PURING ( PUSKESMAS RAWAT INAP NGADIREJO ) TEMANGGUNG
 
Copyright (c) 2010 PURING (PUSKESMAS RAWAT INAP NGADIREJO) TEMANGGUNG. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.