Pages


Minggu, 27 Maret 2011

PERAN LABORAT DALAM PROSES PENYEMBUHAN PASIEN


Laborat adalah suatu tempat untuk pemeriksaan sample darah, urine, feses, dahak dll yang dapat membantu menegakkan diagnosa medis. Dalam hal ini kami akan menyarankan kepada masyarakat supaya menjaga kesehatan. Di Laboratorium Puskesmas Rawat Inap Ngadirejo (PRIN) sekarang sudah banyak penyakit yang dicurigai dokter dan ternyata setelah di periksa lab ternyata hasilnya benar sesuai dengan yang dicurigai. Dengan laborat bisa meyakinkan diagnosa dokter yang sebelumnya telah digali lewat anamnesa gejala-gejala atau keluhan pasien.
Labaorat di PRIN cukup lengkap untuk mendukung menegakkan diagnosa medis. Kerjasama antara Medis, Paramedis dan Petugas Laborat bisa untuk lebih meyakinkan pasien agar mau periksa ke lab agar penyakitnya bisa diketahui lebih pasti. Laborat di PRIN antara lain adalah : Darah rutin, kimia darah, urinalisa, bakteriologi dll. Berikut akan kami jelaskan beberapa fungsi pemeriksaan laborat di PRIN untuk meyakinkan pasien dalam mengetahui penyakit yang di derita.
1. Pemeriksaan HB (Haemoglobin)  digunakan untuk mengetahui kandungan darah dalam tubuh, dimana disini akan bisa di deteksi apakah seseorang kekurangan darah (anemia) atau tidak. Nilai normal HB bagi seorang pria adalah 13-17 mgDl sedangkan wanita adalah 12-16 mgDl.
2. AL (angka Leukosit) tes ini dilakukan untuk mengetahui angka leukosit (sel darah putih) dalam tubuh. Jika AL cenderung tinggi dari angka normal kemungkinan terjadi infeksi di dalam tubuh seseorang.
3. LED (Laju endap darah) jika hasil LED lebih tinggi dari nilai normal maka telah terjadi infeksi di dalam tubuh seseorang.
4. Urine Lengkap digunakan untuk mengetahui adanya sediment (endapan) dan dengan menggunakan mikroskop akan dilihat kandungan yang ada dalam sediment tersebut. Biasanya nanti akan terlihat kristal, silinder, erytrosit, leukosit, epitel dan bakteri yang ada dalam urine. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui penyakit-penyakit yang berhubungan dengan saluran kemih semisal Infeksi Saluran Kencing (ISK), batu ginjal, batu ureter dll.
5. BTA (Bakteri Tahan Asam) digunakan untuk mengetahui adanya Mycobacterium Tuberculosa, penyebab penyakit TBC. Medium yang digunakan adalah dengan sputum yang purulen (dahak yang kental kehijauan)
6. Kimia darah semisal : Cholesterol, Trigliserid, Asam Urat yang banyak membantu menegak penyakit jantung dan gangguan metabolisme serta GD (Gula Darah ) untuk menegakkan diagnosa seseorang terkena Diabetus Melitus. Cara pemeriksaan Gula darah ada 3 macam yaitu :
 GDS (gula darah sewaktu) pemeriksaan ini dilakukan sewaktu dibutuhkan.
 GDP (gula darah puasa) pemeriksaan ini dilakukan setelah pasien berpuasa ± 10 jam sebelum diperiksa.
 GD2PP (gula darah 2 jam post pandrial) dilakukan setelah pasien dicek GDP kemudian disuruh makan dan puasa lagi selama 2 jam kemudian dicek
7. Widal biasanya digunakan untuk menegakkan pasien terkena kuman Salmonella Typhosa yang dikenala dengan penyakit Typhus abdominalis.
8. Feses atau Tinja yang diperiksa untuk mengetahui apakah ada telur cacing, amuba, erytrosit, leukosit dalam tinja tersebut. Biasanya dilakukan pada pasien gangguan saluran cerna semisal : Gastro enteritis, Dysentri amuba dan basiler.
9. HbsAg digunakan untuk membantu menegakkan diagnosa penyakit Hepatitis.

Dengan adanya pemeriksaan laborat kami berharap agar pasien segera dapat terdiagnosa penyakitnya. Otomatis juga akan lebih cepat menetukkan drug of choice (obat pilihan terbaik) penyakit tersebut. Tentu saja jika obat yang digunakan sesuai atau tepat untuk membunuh kuman penyebab penyakit, pasien akan lebih cepat sembuh insya-Allah. Semoga dengan adanya pemeriksaan laborat akan meningkatkan angka kesembuhan pasien, amien Terima kasih

Oleh : Mazidatur Rosidah, AMK (BUNGA PURING)

Senin, 21 Maret 2011

HIDUP SEHAT MULAI DARI RUMAH



Sehat merupakan sebuah kata sederhana. Mudah diucapkan, namun ternyata cukup rumit untuk dilaksanakan. Bahkan tak jarang untuk memperoleh hidup sehat perlu ditebus dengan harga yang cukup mahal, sampai jutaan bahkan miliaran rupiah.
Hal ini biasa kita lihat bagaimana orang kaya yang jika sakit lebih mempercayakan untuk berobat keluar negeri dengan biaya yang sangat mahal. Begitu juga dengan orang miskin, walaupun sudah ada dana Jamkesmas namun kenyataannya untuk nebgobati penyakit-penyakit tertentu yang tidak ada dalam paket dasar Jamkesmas, tetap harus mereka merogoh kocek mereka sendiri.
Tentu saja, biaya mahal untuk sehat itu terjadi jika tubuh sudah terlanjur digerogoti penyakit. Tak salah jika orang bijak mengatakan “ Lebih baik melakukan tindakan prenetive (pencegahan) dari pada curative (mengobati) penyakit. Sebab labgkah pencegahan biayanya akan lebih murah daripada mengobati.
Namun langkah pencegahan itu juga bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Dibutuhkan kesadaran yang tinggi bagi masyarakat yang menginginkan badannya tetap sehat.
…. Langkah pencegahan juga bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Dibutuhkan kesadaran yang tinggi bagi masyarakat yang ingin badannya tetap sehat. Padahal melakukan tindakan pencegahan tidak perlu dengan biaya yang mahal. Tiap individu hanya cukup untuk menjaga lingkungannya agar tetap bersih. Selain itu perlu juga dilakukan Pola Hidup Sehat sehari-hari, seperti membersihkan badan, mencuci tangan dengan sabun, menggosok gigi secara teratur, makan makanan yang bergizi (tidak harus yang mahal). Makanan yang diperlukan tubuh adalah yangmengandung :
1. Sumber tenaga (karbohidrat), seperti : beras, jagung, ketela, talas, kentang dsb
2. Zat pembangun (protein) : ikan teri, telur, daging dsb merupakan protein hewani. Tahu, tempe, oncom, kacang-kacangan dsb termasuk protein nabati.
3. Zat pengatur (vitamin dan mineral) semua sayuran dan buah-buahan.
Langkah ini sepintas memang tampak remeh terutama tentang kebersihan. Badan yang kotor akan banyak mengundang penyakit. Makan tanpa cuci tangan apalagi untuk menyuapi anak kecil akan banyak bakteri yang ikut masuk tertelan. Penyakit yang biasa timbul jika tidak cuci tangan adalah diare dsb. Gigi yang tidak bersih akan memudahkan gigi menjadi berlubang, gusi bengkak dan mudah berdarah sehingga menimbulkan sakit yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Pentingnya pengetahuan pada masyarakat tentang pentingnya hidup sehat perlu tersu digalakkan.
Hal ini tidak perlu dilakukan dengan muluk – muluk karena utuk menjaga kesehatan dapat dimulai dari hal yang kecil tetapi berdampak besar bagi kesehatan. Salah satunya dengan membiasakan menggunakan sabun minimal 5 kali sehari, yaitu pada waktu cuci tangan, sebelum makan pagi, siang dan malam, pada waktu mandi dan pada waktu setelah buang air besar.

Oleh : dr. Muchibin (BUNGA PURING)

Sadar Sampah Cermin Ber – PHBS


Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia. Setipa aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume serta jenis sampah sebanding dengan tingkat konsumsi terhadap barang yang digunakan sehari – hari. Tidak hanya sampah hasil produksi kawasan industri, ternyata sampah rumah tangga kini telah masuk dalam daftar penyebab utama perusak lingkungan dan sumber penurunan kulitas kesehatan masyarakat.
Secara umum sampah padat dapat dibagi 2, yaitu sampah organic ( sampah basah ) dan sampah anorganik ( sampah kering ). Sampah organic terdiri dari bahan – bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam prose salami. Sampah rumah tanga sebagian besar merupakan bahan organic misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah dan daun. Sedangkan sampah alami manusia seperti tinja dan air seni bisa menjadi sampah berbahaya bagi kesehatan bila masuk ke tubuh manusia.
Kedua dampak yang akan ditimbulkan oleh sampah sam berbahayanya. Ditilik dari segi kesehatan sendiri berbagai macam penyakit bisa timbul dan menyebar lewat medium sampah. Sedanghkan kerusakan lingkungan akibat ketidakmampuan alam mendaur ulang sampah dengan baik, maka tida heran jika kini sering terjadi bencana banjir karena terganggunya saluran air hanya akibat sampah. Selain itu rembesan cairan sampah yang masuk kedalam tanah akan masuk kedalam sumur mata air pemukiman warga.
Melihat besarnya dampak yang timbul akibat sampah domestic, perlu adanya langkah pasti merubah pandangan masyarakat tentang sampah. Cara pengendalian sampah yang paling sederhana adalah dengan menumbuhkan kesadaran dari dalam diri untuk tidak merusak lingkungan dengan sampah. Diperlukan juga control social budaya masyarakat untuk lebih menghargai lingkungan, walaupun kadang harus dihadapkan pada mitos tertentu. Peraturan yang tegas dari pemerintah juga sangat diharapkan karena jika tidak maka para perusak lingkungan akan terus merusak sumber daya alam.
( Dikutip dari Majalah Promkes Dep Kes RI 2007 )

Sabtu, 19 Maret 2011

PUISI TUHAN 9 SENTI

Tuhan Sembilan Senti
(Taufiq Ismail)
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

SEJARAH

Sejarah Puskesmas :
Djas-Merah ( Jangan sekali – kali meninggalkan sejarah ) mengutip perkataan dari Sang Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno. Sejarah bisa menjadi guru yang berharga, bisa menjadi pelajaran yang akan menuntun kita kearah yang lebih baik. Banyak hal yang bisa kita petik sebagai pelajaran yang berharga dari sejarah. Jiwa kepatriotan para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan sampai titik darah penghabisan. Semangat ini hendaknya menjadi contoh bagi generasi sekarang
Bermula dari sebuah klinik kesehatan pasar kemudian tumbuh menjadi sebuah Puskesmas. Waktu itu masih terasa kecil jika dibandingkan dengan saat ini, Puskesmas Ngadirejo masih memberikan pelayanan pokok saja. Kepala Puskesmas Ngadirejo pertama kali adalah dr. Tan.
Di tahun 1980-an Puskesmas mengalami perkembangan dari segi pelayanan serta pembangunan gedungnya. Konon di tahun inilah mulai dirintis adanya Rawat Tinggal atau Rawat Inap. Kepala Puskesmas pada waktu itu adalah dr. Artisto yang karena ketrampilan dan ketekunan beliau merubah Puskesmas menjadi semi Rumah Sakit. Faktor lain yang membuat kemajuan Puskesmas Rawat Inap Ngadirejo waktu itu adalah masih sedikit Rumah Sakit yang bisa dijangkau masyarakat. Selain itu juga dikarenakan karena letaknya yang cukup strategis. Alhamdulillah sampai saat ini Puskesmas Rawat Inap Ngadirejo terus mengalami perkembangan. Tentunya pengalaman terdahulu bisa menjadi pelajaran dan evaluasi kearah yang lebih baik.
Berikut Kepala Puskesmas Rawat Inap Ngadirejo :
th.1972 - 1974 dr. Tan
th.1974 - 1976 dr. Darajatun
th.1976 - 1980 dr. Sri Hadiyati
th.1981 - 1985 dr. Artisto
th.1986 - 1990 dr. Amin Juandi
th.1990 – 1991 dr. Ike Ciptaningsih
th.1991 - 2000 dr. Abdul Chaji
th.2000 - 2005 dr. Artiyono
th.2005 - 2007 dr. Muchibin
th.2007 - skrg dr. Wahyo Praptono
PURING ( PUSKESMAS RAWAT INAP NGADIREJO ) TEMANGGUNG
 
Copyright (c) 2010 PURING (PUSKESMAS RAWAT INAP NGADIREJO) TEMANGGUNG. Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.