ICD X : A.01
Demam Tifoid atau tifus abdominalis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh
bakteri Salmonella typhii yang ditularkan melalui makanan yang tercemar oleh
tinja dan urine penderita.
Penyebab
Bakteri Salmonella typhii
Gambaran klinik
- Gambaran klinis bervariasi dari sangat ringan sampai berat dengan komplikasi
yanga sangat berbahaya.
- Biasanya gejala mulai timbul secara bertahap dalam wakatu 8 – 14 hari setelah
terinfeksi.
- Gejalanya bisa berupa demam intermitten (pagi lebih rendah dibanding sore
hari), sakit kepala, nyeri sendi, sakit tenggorokan, bibir kering dan pecah,
lidah kotor tertutup oleh selaput putih, sembelit, penurunan nafsu makan dan
nyeri perut.
- Kadang penderita merasakan nyeri ketika berkemih dan terjadi batuk serta
perdarahan dari hidung.
- Jika pengobatan tidak dimulai maka suhu tubuh secara perlahan akan meningkat
dalam waktu 2 – 3 hari, yaitu mencapai 39,4 – 40°C selama 10 – 14 hari.
Panas mulai turun secara bertahap pada akhir minggu ke-3 dan kembali normal
pada minggu ke-4.
- Demam seringkali disertai oleh denyut jantung yang lambat dan kelelahan
yang luar biasa.
- Pada kasus yang berat bisa terjadi delirium, stupor atau koma.
- Pada sekitar 10% penderita timbul sekelompok bintik-bintik kecil berwarna
merah muda di dada dan perut pada minggu kedua dan berlangsung selama
2 – 5 hari.
Diagnosis
- Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan biakan darah, tinja, air kemih atau
jaringan tubuh lainnya guna menemukan bakteri penyebabnya.
Penatalaksanaan
Tirah baring, dilaksanakan untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Diet harus mengandung kalori dan protein yang cukup sebaiknya rendah serat,
makanan lunak.
Pengobatan :
- Dengan antibiotik yang tepat, lebih dari 99% penderita dapat disembuhkan.
Antibiotik untuk penderita tifoid :
§ Kloramfenikol,
o Dewasa : 4 x 500 mg selama 14 hari
o Anak : 50-100 mg/kgBB 4 x sehari selama 10 – 14 hari.
§ Tiamfenikol,
o Dewasa : 500 mg 4 x sehari selama 5 – 7 hari bebas panas.
o Anak : 50 mg/kgBB 4 x sehari selama 5 – 7 hari bebas panas.
§ Ampisilin
o Dewasa : 500 mg 4 x sehari selama 10 – 14 hari.
o Anak : 50 – 100 mg/kgBB 4 x sehari selama 10 – 14 hari.
- Terapi simtomatik (anti piretik, anti emetik)
- Roburansia.
- Terapi cairan, kadang makanan diberikan melalui infus sampai penderita dapat
mencerna makanan.
- Jika terjadi perforasi usus berikan antibiotik berspektrum luas (karena berbagai
jenis bakteri akan masuk ke dalam rongga perut) dan mungkin perlu dilakukan
pembedahan untuk memperbaiki atau mengangkat bagian usus yang mengalami
perforasi.
Pencegahan:
- Pencegahan terhadap carier dan kasus relaps.
- Perbaikan snitasi lingkungan.
- Perbaikan hygiene makanan,hygiene perorangan
- Imunisasi
§ Vaksin tifus per-oral (ditelan) memberikan perlindungan sebesar 70%.
§ Vaksin ini hanya diberikan kepada orang-orang yang telah terpapar oleh
bakteri Salmonella typhii dan orang-orang yang memiliki resiko tinggi
(termasuk petugas laboratorium dan para pelancong).
Para pelancong sebaiknya menghindari makan sayuran mentah dan
makanan lainnya yang disajikan atau disimpan di dalam suhu ruangan.
- Sebaiknya mereka memilih makanan yang masih panas atau makanan yang
dibekukan, minuman kaleng dan buah berkulit yang bisa dikupas.
SUMBER:
Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007
Rabu, 06 April 2011
ANGINA PEKTORIS
ICD X : I.20
Definisi
Angina pektoris adalah keadaan klinik yang ditandai dengan rasa tidak enak atau
nyeri di dada akibat iskemia jaringan otot jantung.
Secara klinik bentuk angina dibedakan atas dua bentuk, yaitu angina stabil dan
tidak stabil. Angina tidak stabil merupakan bentuk yang lebih berat yang dapat
berkembang menjadi dan/atau merupakan bentuk awal infark miokard sehingga
penderita perlu diperiksa dan diobservasi lebih lanjut di rumah sakit.
Penyebab
Iskemia ini terjadi karena suplai oksigen yang dibawa oleh aliran darah koroner
tidak mencukupi kebutuhan oksigen miokardium. Hal ini terjadi bila kebutuhan
oksigen miokardium meningkat (misalnya karena kerja fisik, emosi, tirotoksikosis,
hipertensi), atau bila aliran darah koroner berkurang (misalnya pada spasme atau
trombus koroner) atau bila terjadi keduanya.
Gambaran Klinis
- Penderita mengeluh nyeri dada yang beragam bentuk dan lokasinya.
- Nyeri berawal sebagai rasa terhimpit, rasa terjepit atau rasa terbakar yang
menyebar ke lengan kiri bagian dalam dan kadang sampai ke pundak, bahu
dan leher kiri, bahkan dapat sampai ke kelingking kiri.
- Perasaan ini dapat pula menyebar ke pinggang, tenggorokan rahang gigi dan
ada juga yang sampaikan ke lengan kanan.
- Rasa tidak enak dapat juga dirasakan di ulu hati, tetapi jarang terasa di daerah
apeks kordis.
- Rasa nyeri dapat disertai beberapan atau salah satu gejala berikut ini : berkeringat
dingin, mual dan muntah, rasa lemas, berdebar dan rasa akan pingsan (fainting).
- Biasanya angina timbul saat melakukan kegiatan fisik (angina stabil).
- Serangan ini akan hilang bila penderita menghentikan kegiatan fisik tersebut
dan beristirahat.
- Serangan berlangsung hanya beberapa menit (1 – 5 menit) tetapi bisa sampai
lebih dari 20 menit.
- Nyeri angina sifatnya konstan. Bila terjadi perubahan misalnya lama
serangan bertambah, nyeri lebih hebat, ambang timbulnya serangan
menurun atau serangan datang saat bangun tidur, maka gangguan ini perlu
diwaspadai. Perubahan ini mungkin merupakan tanda prainfark (angina tidak
stabil).
- Suatu bentuk ubahan (variant) yang disebut angina Prinzmetal biasanya timbul
saat penderita sedang istirahat.
- Angina dikatakan bertambah berat apabila serangan berikutnya terjadi sesudah
kerja fisik yang lebih ringan, misalnya sesudah makan. Ini tergolong juga
angina tidak stabil.
- Pemeriksaan fisik diluar serangan umumnya tidak menunjukkan kelainan yang
berarti. Pada waktu serangan, denyut jantung bertambah, tekanan darah
meningkat dan di daerah prekordium pukulan jantung terasa keras.
- Pada auskultasi, suara jantung terdengar jauh, bising sistolik terdengar pada
pertengahan atau akhir sistol dan terdengar bunyi keempat.
- Biasanya didapatkan faktor risiko: hipertensi, obesitas atau diabetes melitus.
Diagnosis
- Nyeri dada retrosternal
- Pemeriksaan EKG
Penatalaksanaan
- Kelainan yang melatarbelakangi angina pektoris harus dicari, kemudian
dikurangi atau diobati. Faktor yang memperberat seperti merokok, berat badan
berlebihan, dan kebiasaan minum kopi sebaiknya dihindari.
- Tekanan darah tinggi diobati.
- Stress dikendalikan
- Angina tidak stabil sebaiknya ditangani di rumah sakit.
1. Pengobatan serangan akut
- Serangan akut diatasi dengan istirahat agar aktivitas jantung berkurang.
Vasodilator berfungsi memperbaiki penyediaan oksigen dan mengurangi
konsumsi oksigen jantung.
- Nitrogliserin sublingual 0,15 - 0,6 mg sangat efektif. Tablet ini dapat
digunakan beberapa kali tiap hari tanpa efek samping kecuali sakit kepala.
Bila 1 tablet belum menolong boleh diulang, tetapi bila setelah diulang 3
kali gejala tak berkurang maka kemungkinan telah terjadi infark.
- Isosorbid dinitrat (ISDN) sublingual 2,5 – 5 mg yang juga dapat diulang
atau tablet oral 5 – 30 mg.
2. Pencegahan serangan
- Propranolol efektif untuk angina pektoris karena dapat mengurangi kerja
otot jantung sehingga mengurangi kebutuhan oksigen jantung. Efek klinik
propranolol tercapai bila denyut jantung dalam keadaan istirahat 60 – 70
kali/menit.
Dosis awal : 20 mg 2 x sehari.
Dosis maksimal : 120 mg sehari.
Obat ini tidak boleh digunakan pada angina Prinzmetal.
- Nitrat kerja lama : ISDN tablet oral 10 – 20 mg 2 x sehari.
- Nifedipin 10 – 20 mg 4 x sehari,
atau diltiazem 30 – 60mg 3 x sehari,
atau verapamil 40 – 80mg 3 x sehari.
- Angina tidak stabil : perlu perawatan khusus.
- Angina varian : dilator kuat : nitrat, calcium antagonis, prazosin 0,5 – 1mg
3 x sehari dengan titrasi.
SUMBER:
Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007
Definisi
Angina pektoris adalah keadaan klinik yang ditandai dengan rasa tidak enak atau
nyeri di dada akibat iskemia jaringan otot jantung.
Secara klinik bentuk angina dibedakan atas dua bentuk, yaitu angina stabil dan
tidak stabil. Angina tidak stabil merupakan bentuk yang lebih berat yang dapat
berkembang menjadi dan/atau merupakan bentuk awal infark miokard sehingga
penderita perlu diperiksa dan diobservasi lebih lanjut di rumah sakit.
Penyebab
Iskemia ini terjadi karena suplai oksigen yang dibawa oleh aliran darah koroner
tidak mencukupi kebutuhan oksigen miokardium. Hal ini terjadi bila kebutuhan
oksigen miokardium meningkat (misalnya karena kerja fisik, emosi, tirotoksikosis,
hipertensi), atau bila aliran darah koroner berkurang (misalnya pada spasme atau
trombus koroner) atau bila terjadi keduanya.
Gambaran Klinis
- Penderita mengeluh nyeri dada yang beragam bentuk dan lokasinya.
- Nyeri berawal sebagai rasa terhimpit, rasa terjepit atau rasa terbakar yang
menyebar ke lengan kiri bagian dalam dan kadang sampai ke pundak, bahu
dan leher kiri, bahkan dapat sampai ke kelingking kiri.
- Perasaan ini dapat pula menyebar ke pinggang, tenggorokan rahang gigi dan
ada juga yang sampaikan ke lengan kanan.
- Rasa tidak enak dapat juga dirasakan di ulu hati, tetapi jarang terasa di daerah
apeks kordis.
- Rasa nyeri dapat disertai beberapan atau salah satu gejala berikut ini : berkeringat
dingin, mual dan muntah, rasa lemas, berdebar dan rasa akan pingsan (fainting).
- Biasanya angina timbul saat melakukan kegiatan fisik (angina stabil).
- Serangan ini akan hilang bila penderita menghentikan kegiatan fisik tersebut
dan beristirahat.
- Serangan berlangsung hanya beberapa menit (1 – 5 menit) tetapi bisa sampai
lebih dari 20 menit.
- Nyeri angina sifatnya konstan. Bila terjadi perubahan misalnya lama
serangan bertambah, nyeri lebih hebat, ambang timbulnya serangan
menurun atau serangan datang saat bangun tidur, maka gangguan ini perlu
diwaspadai. Perubahan ini mungkin merupakan tanda prainfark (angina tidak
stabil).
- Suatu bentuk ubahan (variant) yang disebut angina Prinzmetal biasanya timbul
saat penderita sedang istirahat.
- Angina dikatakan bertambah berat apabila serangan berikutnya terjadi sesudah
kerja fisik yang lebih ringan, misalnya sesudah makan. Ini tergolong juga
angina tidak stabil.
- Pemeriksaan fisik diluar serangan umumnya tidak menunjukkan kelainan yang
berarti. Pada waktu serangan, denyut jantung bertambah, tekanan darah
meningkat dan di daerah prekordium pukulan jantung terasa keras.
- Pada auskultasi, suara jantung terdengar jauh, bising sistolik terdengar pada
pertengahan atau akhir sistol dan terdengar bunyi keempat.
- Biasanya didapatkan faktor risiko: hipertensi, obesitas atau diabetes melitus.
Diagnosis
- Nyeri dada retrosternal
- Pemeriksaan EKG
Penatalaksanaan
- Kelainan yang melatarbelakangi angina pektoris harus dicari, kemudian
dikurangi atau diobati. Faktor yang memperberat seperti merokok, berat badan
berlebihan, dan kebiasaan minum kopi sebaiknya dihindari.
- Tekanan darah tinggi diobati.
- Stress dikendalikan
- Angina tidak stabil sebaiknya ditangani di rumah sakit.
1. Pengobatan serangan akut
- Serangan akut diatasi dengan istirahat agar aktivitas jantung berkurang.
Vasodilator berfungsi memperbaiki penyediaan oksigen dan mengurangi
konsumsi oksigen jantung.
- Nitrogliserin sublingual 0,15 - 0,6 mg sangat efektif. Tablet ini dapat
digunakan beberapa kali tiap hari tanpa efek samping kecuali sakit kepala.
Bila 1 tablet belum menolong boleh diulang, tetapi bila setelah diulang 3
kali gejala tak berkurang maka kemungkinan telah terjadi infark.
- Isosorbid dinitrat (ISDN) sublingual 2,5 – 5 mg yang juga dapat diulang
atau tablet oral 5 – 30 mg.
2. Pencegahan serangan
- Propranolol efektif untuk angina pektoris karena dapat mengurangi kerja
otot jantung sehingga mengurangi kebutuhan oksigen jantung. Efek klinik
propranolol tercapai bila denyut jantung dalam keadaan istirahat 60 – 70
kali/menit.
Dosis awal : 20 mg 2 x sehari.
Dosis maksimal : 120 mg sehari.
Obat ini tidak boleh digunakan pada angina Prinzmetal.
- Nitrat kerja lama : ISDN tablet oral 10 – 20 mg 2 x sehari.
- Nifedipin 10 – 20 mg 4 x sehari,
atau diltiazem 30 – 60mg 3 x sehari,
atau verapamil 40 – 80mg 3 x sehari.
- Angina tidak stabil : perlu perawatan khusus.
- Angina varian : dilator kuat : nitrat, calcium antagonis, prazosin 0,5 – 1mg
3 x sehari dengan titrasi.
SUMBER:
Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007
Minggu, 27 Maret 2011
PERAN LABORAT DALAM PROSES PENYEMBUHAN PASIEN
Laborat adalah suatu tempat untuk pemeriksaan sample darah, urine, feses, dahak dll yang dapat membantu menegakkan diagnosa medis. Dalam hal ini kami akan menyarankan kepada masyarakat supaya menjaga kesehatan. Di Laboratorium Puskesmas Rawat Inap Ngadirejo (PRIN) sekarang sudah banyak penyakit yang dicurigai dokter dan ternyata setelah di periksa lab ternyata hasilnya benar sesuai dengan yang dicurigai. Dengan laborat bisa meyakinkan diagnosa dokter yang sebelumnya telah digali lewat anamnesa gejala-gejala atau keluhan pasien.
Labaorat di PRIN cukup lengkap untuk mendukung menegakkan diagnosa medis. Kerjasama antara Medis, Paramedis dan Petugas Laborat bisa untuk lebih meyakinkan pasien agar mau periksa ke lab agar penyakitnya bisa diketahui lebih pasti. Laborat di PRIN antara lain adalah : Darah rutin, kimia darah, urinalisa, bakteriologi dll. Berikut akan kami jelaskan beberapa fungsi pemeriksaan laborat di PRIN untuk meyakinkan pasien dalam mengetahui penyakit yang di derita.
1. Pemeriksaan HB (Haemoglobin) digunakan untuk mengetahui kandungan darah dalam tubuh, dimana disini akan bisa di deteksi apakah seseorang kekurangan darah (anemia) atau tidak. Nilai normal HB bagi seorang pria adalah 13-17 mgDl sedangkan wanita adalah 12-16 mgDl.
2. AL (angka Leukosit) tes ini dilakukan untuk mengetahui angka leukosit (sel darah putih) dalam tubuh. Jika AL cenderung tinggi dari angka normal kemungkinan terjadi infeksi di dalam tubuh seseorang.
3. LED (Laju endap darah) jika hasil LED lebih tinggi dari nilai normal maka telah terjadi infeksi di dalam tubuh seseorang.
4. Urine Lengkap digunakan untuk mengetahui adanya sediment (endapan) dan dengan menggunakan mikroskop akan dilihat kandungan yang ada dalam sediment tersebut. Biasanya nanti akan terlihat kristal, silinder, erytrosit, leukosit, epitel dan bakteri yang ada dalam urine. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui penyakit-penyakit yang berhubungan dengan saluran kemih semisal Infeksi Saluran Kencing (ISK), batu ginjal, batu ureter dll.
5. BTA (Bakteri Tahan Asam) digunakan untuk mengetahui adanya Mycobacterium Tuberculosa, penyebab penyakit TBC. Medium yang digunakan adalah dengan sputum yang purulen (dahak yang kental kehijauan)
6. Kimia darah semisal : Cholesterol, Trigliserid, Asam Urat yang banyak membantu menegak penyakit jantung dan gangguan metabolisme serta GD (Gula Darah ) untuk menegakkan diagnosa seseorang terkena Diabetus Melitus. Cara pemeriksaan Gula darah ada 3 macam yaitu :
GDS (gula darah sewaktu) pemeriksaan ini dilakukan sewaktu dibutuhkan.
GDP (gula darah puasa) pemeriksaan ini dilakukan setelah pasien berpuasa ± 10 jam sebelum diperiksa.
GD2PP (gula darah 2 jam post pandrial) dilakukan setelah pasien dicek GDP kemudian disuruh makan dan puasa lagi selama 2 jam kemudian dicek
7. Widal biasanya digunakan untuk menegakkan pasien terkena kuman Salmonella Typhosa yang dikenala dengan penyakit Typhus abdominalis.
8. Feses atau Tinja yang diperiksa untuk mengetahui apakah ada telur cacing, amuba, erytrosit, leukosit dalam tinja tersebut. Biasanya dilakukan pada pasien gangguan saluran cerna semisal : Gastro enteritis, Dysentri amuba dan basiler.
9. HbsAg digunakan untuk membantu menegakkan diagnosa penyakit Hepatitis.
Dengan adanya pemeriksaan laborat kami berharap agar pasien segera dapat terdiagnosa penyakitnya. Otomatis juga akan lebih cepat menetukkan drug of choice (obat pilihan terbaik) penyakit tersebut. Tentu saja jika obat yang digunakan sesuai atau tepat untuk membunuh kuman penyebab penyakit, pasien akan lebih cepat sembuh insya-Allah. Semoga dengan adanya pemeriksaan laborat akan meningkatkan angka kesembuhan pasien, amien Terima kasih
Oleh : Mazidatur Rosidah, AMK (BUNGA PURING)
Senin, 21 Maret 2011
HIDUP SEHAT MULAI DARI RUMAH
Sehat merupakan sebuah kata sederhana. Mudah diucapkan, namun ternyata cukup rumit untuk dilaksanakan. Bahkan tak jarang untuk memperoleh hidup sehat perlu ditebus dengan harga yang cukup mahal, sampai jutaan bahkan miliaran rupiah.
Hal ini biasa kita lihat bagaimana orang kaya yang jika sakit lebih mempercayakan untuk berobat keluar negeri dengan biaya yang sangat mahal. Begitu juga dengan orang miskin, walaupun sudah ada dana Jamkesmas namun kenyataannya untuk nebgobati penyakit-penyakit tertentu yang tidak ada dalam paket dasar Jamkesmas, tetap harus mereka merogoh kocek mereka sendiri.
Tentu saja, biaya mahal untuk sehat itu terjadi jika tubuh sudah terlanjur digerogoti penyakit. Tak salah jika orang bijak mengatakan “ Lebih baik melakukan tindakan prenetive (pencegahan) dari pada curative (mengobati) penyakit. Sebab labgkah pencegahan biayanya akan lebih murah daripada mengobati.
Namun langkah pencegahan itu juga bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Dibutuhkan kesadaran yang tinggi bagi masyarakat yang menginginkan badannya tetap sehat.
…. Langkah pencegahan juga bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Dibutuhkan kesadaran yang tinggi bagi masyarakat yang ingin badannya tetap sehat. Padahal melakukan tindakan pencegahan tidak perlu dengan biaya yang mahal. Tiap individu hanya cukup untuk menjaga lingkungannya agar tetap bersih. Selain itu perlu juga dilakukan Pola Hidup Sehat sehari-hari, seperti membersihkan badan, mencuci tangan dengan sabun, menggosok gigi secara teratur, makan makanan yang bergizi (tidak harus yang mahal). Makanan yang diperlukan tubuh adalah yangmengandung :
1. Sumber tenaga (karbohidrat), seperti : beras, jagung, ketela, talas, kentang dsb
2. Zat pembangun (protein) : ikan teri, telur, daging dsb merupakan protein hewani. Tahu, tempe, oncom, kacang-kacangan dsb termasuk protein nabati.
3. Zat pengatur (vitamin dan mineral) semua sayuran dan buah-buahan.
Langkah ini sepintas memang tampak remeh terutama tentang kebersihan. Badan yang kotor akan banyak mengundang penyakit. Makan tanpa cuci tangan apalagi untuk menyuapi anak kecil akan banyak bakteri yang ikut masuk tertelan. Penyakit yang biasa timbul jika tidak cuci tangan adalah diare dsb. Gigi yang tidak bersih akan memudahkan gigi menjadi berlubang, gusi bengkak dan mudah berdarah sehingga menimbulkan sakit yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Pentingnya pengetahuan pada masyarakat tentang pentingnya hidup sehat perlu tersu digalakkan.
Hal ini tidak perlu dilakukan dengan muluk – muluk karena utuk menjaga kesehatan dapat dimulai dari hal yang kecil tetapi berdampak besar bagi kesehatan. Salah satunya dengan membiasakan menggunakan sabun minimal 5 kali sehari, yaitu pada waktu cuci tangan, sebelum makan pagi, siang dan malam, pada waktu mandi dan pada waktu setelah buang air besar.
Oleh : dr. Muchibin (BUNGA PURING)
Sadar Sampah Cermin Ber – PHBS
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia. Setipa aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume serta jenis sampah sebanding dengan tingkat konsumsi terhadap barang yang digunakan sehari – hari. Tidak hanya sampah hasil produksi kawasan industri, ternyata sampah rumah tangga kini telah masuk dalam daftar penyebab utama perusak lingkungan dan sumber penurunan kulitas kesehatan masyarakat.
Secara umum sampah padat dapat dibagi 2, yaitu sampah organic ( sampah basah ) dan sampah anorganik ( sampah kering ). Sampah organic terdiri dari bahan – bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam prose salami. Sampah rumah tanga sebagian besar merupakan bahan organic misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah dan daun. Sedangkan sampah alami manusia seperti tinja dan air seni bisa menjadi sampah berbahaya bagi kesehatan bila masuk ke tubuh manusia.
Kedua dampak yang akan ditimbulkan oleh sampah sam berbahayanya. Ditilik dari segi kesehatan sendiri berbagai macam penyakit bisa timbul dan menyebar lewat medium sampah. Sedanghkan kerusakan lingkungan akibat ketidakmampuan alam mendaur ulang sampah dengan baik, maka tida heran jika kini sering terjadi bencana banjir karena terganggunya saluran air hanya akibat sampah. Selain itu rembesan cairan sampah yang masuk kedalam tanah akan masuk kedalam sumur mata air pemukiman warga.
Melihat besarnya dampak yang timbul akibat sampah domestic, perlu adanya langkah pasti merubah pandangan masyarakat tentang sampah. Cara pengendalian sampah yang paling sederhana adalah dengan menumbuhkan kesadaran dari dalam diri untuk tidak merusak lingkungan dengan sampah. Diperlukan juga control social budaya masyarakat untuk lebih menghargai lingkungan, walaupun kadang harus dihadapkan pada mitos tertentu. Peraturan yang tegas dari pemerintah juga sangat diharapkan karena jika tidak maka para perusak lingkungan akan terus merusak sumber daya alam.
( Dikutip dari Majalah Promkes Dep Kes RI 2007 )
PURING ( PUSKESMAS RAWAT INAP NGADIREJO ) TEMANGGUNG


